Asrama

Gedung, kamar, dan penempatan santri.

Gedung, Kamar, dan Penghuni

Menempatkan santri, memisahkan putra-putri, dan membaca laporan penghuni.

Asrama → Gedung & Kamar lalu Penghuni

Gedung dan kamar

Daftarkan gedungnya, lalu kamar-kamar di dalamnya. Kapasitas ada di kamar, bukan di gedung — yang menentukan muat atau tidak adalah kamarnya.

Tiap gedung punya peruntukan: putra, putri, atau campur.

Pembina bisa lebih dari satu

Asrama hampir selalu dibina beberapa orang — musyrif putra/putri, pembina harian, penanggung jawab malam. Jadi pembinanya bisa dipilih beberapa sekaligus.

Pembina yang pindah tugas benar-benar tercabut saat Anda menyimpan tanpa mencentangnya lagi.

Menempatkan santri

Asrama → Penghuni. Pilih santrinya, pilih kamarnya.

Pemisahan putra-putri ditegakkan saat penempatan. Di pesantren ini syarat, bukan preferensi — jadi sistem menolak, bukan sekadar memperingatkan. Gedung ber-peruntukan campur dikecualikan.

Kapasitas kamar juga ditegakkan.

Santri keluar

Ditandai keluar, tidak dihapus. Riwayat siapa pernah tinggal di kamar mana justru paling sering ditanyakan setelah santrinya pergi.

Pindah kamar = keluar dari yang lama, masuk ke yang baru. Riwayatnya utuh.

Laporan penghuni

Asrama → Laporan Penghuni

Saring per gedung atau per kamar. Kalau keduanya diisi, yang dipakai kamarnya — lebih spesifik.

Ringkasannya — jumlah kamar, kapasitas, terisi, sisa kursi — mengikuti saringan. Angka yang tidak ikut berubah tidak menjawab pertanyaan apa pun.

Judul laporannya menyebut cakupannya, dan judul itu ikut ke kop PDF-nya. Berkas berjudul "Laporan Penghuni" saja tidak bisa dibedakan setelah Anda mencetak enam kamar berturut-turut.

Pertanyaan umum

Santri putri tidak bisa ditempatkan di kamar itu.

Gedungnya berperuntukan putra. Pilih gedung yang sesuai, atau ubah peruntukan gedungnya kalau memang campur.

Kamar penuh padahal ada yang sudah keluar.

Pastikan yang keluar sudah ditandai keluar, bukan cuma dicatat di buku.

Mengganti pembina harus menghapus gedungnya?

Tidak. Gedung bisa diubah — termasuk pembinanya. Dulu memang hanya bisa dibuat dan dihapus; itu sudah diperbaiki.

Operasional Asrama

Pindah kamar, santri keluar, dan menyiapkan laporan untuk wali.

Pindah kamar

Pindah kamar dicatat sebagai keluar dari kamar lama, masuk ke kamar baru — bukan dengan mengubah nomor kamarnya.

Bedanya penting: dengan cara ini riwayat "pernah tinggal di kamar mana, kapan" tetap utuh. Kalau nomornya cuma diubah, riwayat itu hilang dan pertanyaan yang paling sering muncul — "waktu kejadian itu dia di kamar mana" — jadi tak terjawab.

Santri keluar

Tandai keluar. Kursinya langsung bebas untuk santri berikutnya.

Jangan dihapus. Riwayat penghunian justru paling sering ditanyakan setelah santrinya pergi.

Laporan untuk wali dan pengurus

Asrama → Laporan Penghuni

Saring per gedung atau per kamar, lalu ekspor. Kalau keduanya diisi, yang dipakai kamarnya — lebih spesifik.

Judul laporannya menyebut cakupannya, dan judul itu ikut ke kop PDF-nya. Berkas berjudul "Laporan Penghuni" saja tidak bisa dibedakan setelah Anda mencetak enam kamar berturut-turut.

Ringkasannya — jumlah kamar, kapasitas, terisi, sisa kursi — mengikuti saringan.

Memeriksa kapasitas sebelum tahun ajaran baru

Sebelum penerimaan santri baru, buka laporan tanpa saringan. Yang Anda lihat:

  • berapa kursi tersedia seluruhnya,
  • gedung mana yang masih longgar,
  • gedung mana yang sudah penuh.

Angka itu yang menentukan berapa santri baru yang bisa diterima — bukan perkiraan.

Pertanyaan umum

Kamar penuh padahal ada yang sudah pulang.

Pastikan yang pulang ditandai keluar, bukan cuma dicatat di buku.

Santri putri tidak bisa ditempatkan di kamar itu.

Gedungnya berperuntukan putra. Pilih gedung yang sesuai, atau ubah peruntukan gedungnya kalau memang campur.

Mengganti pembina harus menghapus gedungnya?

Tidak. Gedung bisa diubah, termasuk pembinanya — dan pembinanya boleh lebih dari satu.