Absensi biasanya tercatat rapi di buku dan tetap di sana. Orang tua baru mengetahui anaknya beberapa kali tidak masuk ketika rapor dibagikan — saat semuanya sudah terjadi dan tak ada lagi yang bisa dilakukan.
Padahal informasi itu paling berguna justru di hari kejadiannya.
Mengisi absensi harus lebih cepat daripada menulis di buku
Kalau mengisi absensi di sistem lebih lambat daripada mencoret buku, guru akan kembali ke buku — dan itu wajar.
Karena itu Portal Guru hanya menampilkan yang dibutuhkan saat itu: kelas yang diampu hari ini, daftar siswanya, dan empat pilihan status. Mengisi satu kelas memakan waktu kurang dari satu menit.
Kode statusnya sengaja dibedakan:
- H hadir
- P pulang cepat, tetap dihitung hadir karena anaknya masuk
- S sakit
- I izin
- A alpa
"Belum dicatat" tidak sama dengan "alpa"
Ini pembedaan yang tampak kecil tapi menentukan.
Kelas yang gurunya belum sempat mengisi tidak boleh terbaca sebagai kelas yang siswanya alpa. Karena itu persentase kehadiran dihitung dari yang benar-benar tercatat, bukan dari seluruh siswa aktif.
Kalau tidak, angka kehadiran sekolah akan turun setiap kali ada guru yang belum selesai mengisi — dan angka yang turun tanpa sebab akan berhenti dipercaya.
Kabar yang sampai ke orang yang tepat
Ketidakhadiran memicu pemberitahuan ke wali lewat WhatsApp pada hari itu juga. Yang dikirim hanya ketidakhadiran, bukan kehadiran — memberi kabar setiap hari bahwa anak masuk sekolah akan membuat pesannya berhenti dibaca dalam sepekan.
Nomor yang dipakai mengikuti urutan yang jelas: nomor ayah, lalu ibu, lalu nomor pada data siswa.
Dan saklarnya ada di tangan sekolah. Setiap jenis pemberitahuan bisa dinyalakan atau dimatikan sendiri, karena tidak semua sekolah punya kebiasaan komunikasi yang sama.
Bagikan artikel ini
0 kali dibagikan